Wednesday, 27 May 2020

BERANJAK DEWASA

Beranjak dewasa membuat semua mendadak mati rasa.
Sandiwara-sandiwara itu dibuat untuk kepentingan transaksi saja.
Senyum-senyum palsu dipajang demi bisnis yang lancar jaya.
Seharusnya begini, seharusnya begitu.
Katanya butuh inovasi, tapi kotak saran tertutup rapi.
Hati-hati orang dewasa penuh manipulasi.
Kita semua dituntut tidak berdaya.
Arus yang terlalu kuat.
Imperialisme halus dan kapitalis merajalela.
Semua orang dibuat terjebak pada akhirnya.
Tenang, selama ada fulus ditangan,
Semua aman.
Dahi mengerenyit.
Para pemikir idealis merasa tercekik.
Inilah apa yang uang bisa lakukan.
Inilah apa yang kekuasaan bisa taklukan.
Harga diri.
Tapi, ya begitulah kehidupan orang dewasa.
Tak peduli apa.
Yang penting hidup senang dan aman-aman saja.
Tak peduli uang dari mana.
Yang penting perdamaian perut di genggaman tangan.
Huru-hara ke sana ke sini.
Dunia ini mungkin sempit bagi sebagian orang.
Mungkin luas bagi sebagian lainnya.
Diriku melihat satu sisi seakan sudah benar sendiri saja.
Menjadi dewasa adalah beban.
Sebab itulah banyak tanggungan.
Orang-orang merasa ketakutan.
Atas kemiskinan dan hilangnya kejayaan.
Semua merasa riskan.
Semua butuh pengorbanan.
Tapi, janganlah harga diri dikorbankan.
Kebajikan dan kejujuran.
Dua hal yang sering kali terlupakan.
Sandang, pangan, dan papan.
Seakan hidup hanya itu-itu saja.
Dimana kebahagiaan?
Emosi dan perasaan.
Dibawah hirarki dan aturan-aturan.
Dituntut totalitas.
Atas nama profesionalitas.
Kebahagiaan hanya seberat helai kapas.
Inikah kehidupan orang dewasa?
Orang dewasa tak punya banyak rasa.
Motifnya hanya itu dan itu saja.
Rasanya aku ingin menetap saja.
Menjadi remaja yang penuh gelora.
Selamat tinggal masa muda.
Semangat membaramu semoga tak terlahap realita.
Beranjak dewasa.
Semoga kita baik-baik saja.