Wednesday, 15 January 2020

Kalau Begitu, Lebih Baik Sendiri


Kalau Begitu
Lebih Baik Sendiri

Oleh: Lista Rani

Semua yang terlihat dihakimi.
Sebenarnya aku tidak peduli.
Aku terbiasa sendiri.
Tak kenal ayah sendiri.
Berbaur sana-sini.
Tapi hati tetap sepi.
Ya sudah saja sendiri.
Tapi hidup butuh society.
Bersembunyi dibalik prestasi.
Siang di kelas atau mengisi kelas.
Kutilik karyaku yang tak kunjung usai.
Idealisme terbakar realita.
Bingung, mau dibawa kemana?
Semua butuh pasar.
Semua butuh makan.
Lebih baik rebahan saja.
Sambil streaming di IndoXXI.
Senyum ramah kaka tingkat.
Berbaur dengan adik tingkat.
Teman setingkat ajak nongkrong di Starbucks Coffee.
Meeting panjang sekumpulan anak muda tersesat.
Tak ada yang peduli.
Satu konsep cemerlang untuk nilai 10 eksekusi.
Evaluasi terlalu sinis.
Dikata proses terlalu perfectionist.
Tak peduli dengan hasil.
Manusia selalu melihat apa yang bisa disentil.
Kepala penat, dada sesak.
Tidak tau mereka kali ini aku tercegat.
Dunia nyata penuh sandiwara itu nyata.
Selamat tinggal kepala bertoga.
Selamat datang dunia kerja.
Di atas meja tumpukan dokumen.
Di luar sana mobil berjejeran.
Kamu cantik tapi selalu ada sayangnya.
Umur muda, belum dua lima.
Sudah ditanya, kapan menikah?
Sudah bisa terduga.
Kemana pertanyaan selanjutnya.
Basi.
Ironis tapi tak seorangpun bertanya,
"Apakabar mimpi?"
Mimpi seakan sekedar impian untuk wanita kelas biasa saja.
Emansipasi itu teori adanya.
Tak diberi kesempatan.
Tak diberi kepercayaan.
Tak diberi dukungan.
Karena aku bukan siapa-siapa.
Ditentang keluarga sendiri.
Akhirnya terpisah jasmani rohani.
Menderita berjuang sendiri-sendiri.
Pertengkaran yang terjadi.
Sudah muak aku dibuatnya. 
Salah siapa?
Tidak peduli.
Biarlah aku sendiri.
Jika hidup terlalu meracuni.
Jika keadaan terus begini.
Ya sudah saja sendiri.

***

Tulisan di waktu maksi.
Lain kali mimpi semoga terealisasi.
Terimakasih atas waktunya.
Membaca tulisan ini.
Saya serasa dihargai.

-. Memang wanita yang sedang mencari  
    diri sendiri.
  

1 comment: