Thursday, 9 May 2019

Jakarta Sarat Makna (Short Story)


Jakarta sarat makna. Terkadang saat aku berjalan di pinggiran kota, hempasan angin seakan memainkan potongan-potongan cerita di masa lalu. Kabarnya Jakarta adalah episentrum dari sejarah yang kini tersaji dalam berbagai macam karya audio, literasi, dan visual. Aku senang mendengarnya dan akan lebih bahagia jika aku bisa merasakan atmosfirnya secara langsung. Terkadang aku berkhayal dapat berkunjung dan bertemu Mr. Time di kerajaannya untuk menjelajah masa lalu seperti Alice in Wonderland. Bedanya aku tidak ingin mengubah suatu kejadian apapun, hanya melihat-lihat dan menikmati kehidupan Jakarta di masa lalu.

Bangunan-bangunan Belanda yang berdiri megah di Kota Tua menjadi saksi nyata dari sepotong kisah yang pernah ada di Batavia. Lantunan lagu Firasat karya Dee Lestari yang kudengar saat itu menambah melankolis suasana. Aku memesan secangkir kopi hangat di sebuah kedai seni hanya untuk menikmati langit senja di Batavia dan melihat orang-orang yang berlalu lalang menuju lapangan Fatahillah. Tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk bernostalgia di Jakarta. Bangunan-bangunan tua, museum, dan berbagai macam dagangan tradisional yang terjaja di pinggir jalan menambah kental nilai-nilai historis di kota ini. Atraksi seniman pinggir jalan dengan pakaian eksentrik dan cat diseluruh tubuh juga menambah balutan estetika di tengah hiruk-pikuk kota yang selalu sibuk itu.

Jakarta. Batinku. Aku suka kota ini. Meski panasnya seringkali membuatku menggerutu, aku tetap suka kota ini. Jakarta menaruh banyak cerita. Jakarta menoreh banyak cerita. Jakarta punya alur kontras yang bervariasi dan menyimpan banyak makna di banyak jiwa. Jakarta sarat makna.

"Have you done?" Tanya seseorang yang menemaniku dalam hening sedari tadi. Aku sontak tersadar dari narasi yang terbentuk sendiri dipikiranku.

"Suntikan emosi?" Ucapnya lagi.

Aku tertawa mendengarnya menyebut frasa itu. "Well… not really, but surely you just interrupted me from being immersed into “suntikan emosi.””

Kini giliran dia yang tertawa, "Hey, kau tidak bisa mengabaikanku seperti ini. Aku juga butuh perhatianmu, tahu!" Protesnya terhadapku. Wajahnya sangat menggemaskan saat dia berkata seperti itu. Padahal umurnya sudah nyaris beranjak seperempat dari seabad.

Aku menyeruput kopiku.

"Alright Capt, what do you want?"

Dia menyeruput kopinya.

"I want you."

Ada jeda di sana - yang membuat kalimatnya terdengar romantis. Apalagi dengan tatapan tajamnya yang seakan menghujam jantungku dan seketika membuatku bisu. Tapi, semua kesan itu runtuh saat ia melanjutkan kalimatnya dengan: "I want you to talk to me now, tapi please jangan sampe baweeel." Ucapnya sambil menjepit kedua hidungku. 

Aku berusaha melepaskan tangannya dari hidungku sambil berkata, "I hate you to the moon and baaaaaacckk"

"I hate you too. To the moon and the Saturnus, to the black hole and never going back."

"Kejam."

Hidungku menjadi merah.

"Sekali." Sahutnya melanjutkan kataku sambil melepaskan jepitan tangannya di hidungku.

"Kau. Kejam sekali." Tekanku. Dramatis.

Dan dia hanya tersenyum kecil.

***

Kala itu, dibawah naungan langit senja kami digelitik dengan hembusan angin yang datang dengan lembut. Membuat kami ingin berlama-lama sambil bertukar banyak cerita. Tentang hari-hari lalu, tentang emosi-emosi, juga inspirasi-inspirasi.

Satu cangkir Vanilla Espresso lainnya. Sementara itu, kami bergurau tentang diri kami sendiri. Melayang tinggi berbicara soal mimpi. Dan menambah daftar kenangan untuk kota yang penuh dengan makna ini.

"You seem to love this city a bunch, uh?"

"A bunch combined with lots."

"Apa yang paling kamu suka dari Jakarta?"

"Jakarta." Ucapku menggantung dan pandanganku pun menerawang.

 "Jakarta menaruh banyak cerita. Jakarta menoreh banyak cerita. Jakarta punya alur kontras yang bervariasi dan menyimpan banyak makna di banyak jiwa. Jakarta sarat makna."

"Suntikan emosi?" Tanyanya sambil tersenyum.

Dirinya sudah pasti tahu, jawabanku adalah sepenggal dari ritual suntikan emosi yang kugarap dari observasiku terhadap dunia sekitar.

"Ya, hasil dari suntikan emosi."

"Aku sudah tahu." Ucapnya.

Dan kami menyeruput kopi kami sampai habis.


***


Suatu hari nanti. Angin akan menyapa saat semua telah menjadi pecahan memori. Semesta akan menampilkan potongan-potongan kisah yang kita lalui hari ini. Karena aku dan kamu telah menuliskan secoreh makna di sini. Di kota ini – kota sarat makna.
.
.
.

Jakarta.

-LR


No comments:

Post a comment