Monday, 5 March 2018

Jadi Mahasiswa (Swasta) Yang Berkualitas

Art by ratbits.tumblr

Banyak anak swasta yang mengeluhkan tentang kualitas kampusnya. Tapi, secara tidak langsung mereka mendukung keadaan kurang berkualitas tersebut. Contohnya: mengikuti sistem perbaikan nilai yang sama sekali tidak meningkatkan pengetahuan atau keterampilannya tentang mata kuliah yang diperbaiki, mengerjakan tugas seadanya sesuai standar atau bahkan tidak mengerjakan tugas sama sekali. Hal itu kerap kali ditekuni sebagian mahasiswa ketika standar untuk mendapatkan nilai A cenderung dipermudah. Parahnya, dengan standar yang seperti itu, masih banyak yang harus melakukan perbaikan nilai atau bahkan mengulang kelas.
GPA 3.75 in private university may be just 3.3 in state university, or other prestigious universities which are not solely state university. Tidak tahu tepatnya seberapa, tapi yang jelas here—everything is easier. Lalu, apa yang harus dilakukan ketika ingin memiliki kualitas di atas rata-rata?  Untuk menghancurkan setiap stereotip negatif terhadap anak swasta? dan untuk membuktikan bahwa kita tidak kalah dari segi kualitas akademik maupun akademik? Some people blame the system, but smart people find solution for this.

-Set Your Own Standard-

Ketika kita tahu standar kampus swasta seperti apa dan negeri bagaimana, kita bisa membandingkan keduanya, dan tahu standar seperti apa yang harus kita buat terhadap diri sendiri untuk memiliki standar di atas rata-rata, atau setidaknya sama seperti universitas yang memiliki standar tinggi (You may compare with foreign university e.g. Edinburgh or whichever you consider excellent). Personally, ini membantu untuk memotivasi kita belajar lebih ekstra dari yang lain—belajar tidak hanya sesuai dengan materi yang diajarkan di kelas, tapi juga dari sumber lain, seperti membaca buku-buku lain yang menunjang pengetahuan kita lebih banyak mengenai mata kuliah tertentu.  Dengan memiliki standar yang tinggi terhadap diri sendiri, ini membantu kita berjalan lebih cepat dan menggali ilmu lebih dalam.

Set your own standard selain di akademik, bisa juga di hal non akademik. Well, tidak ada salahnya jika beberapa orang tetap memutuskan untuk hanya fokus terhadap hal akademik. Karena hal dasar dari artikel ini pun menekankan pada kualitas bukan kuantitas. Berfokus pada hal akademik saja dapat dikembangkan dengan, misalnya: menjadi asisten lab di kampus atau rajin mengikuti lomba-lomba yang sesuai dengan bidang akademik yang dipelajari. UNDER ONE CONDITION: make sure you win those contests since you merely focus on academic things. Challenge yourself! Intinya, fokus di akademik doesn’t mean punya IPK tinggi aja. As in my perspective, rugi jika kuliah hanya difokuskan pada persoalan bagaimana mencapai IPK yang tinggi. Therefore, to those who get bored in class or those who think it’s less challenging, maka berpartisipasilah dalam hal lain yang bersifat non akademik. Misal: aktif di organisasi kampus, club, UKM, atau jadi relawan di kegiatan-kegiatan  yang diselenggarakan oleh pihak di luar kampus. Believe me, it will definitely have taught you MUCH MORE valuable insights and experiences compared to just sit in class and listen to your lecturer speaking (sometimes) non relatable things to your subjects. Baca: 6 Benefits of Joining Student Organization. Aktif di luar kelas juga bisa dengan memiliki pekerjaan paruh waktu (freelance) yang sesuai dengan jurusan atau passion sendiri. Pekerjaan paruh waktu membantu menambah pengalaman kerja dan pemasukan secara finansial, indeed.

Above all, yang lebih baik lagi adalah jika bisa mengatur waktu untuk menyelaraskan kegiatan akademik dan non-akademik seperti yang telah disebutkan diatas dan diimbangi dengan kualitas. Mungkin sulit, but it’s worth your  time. However, jangan sampai kewajiban utamanya terbengkalai, yakni: k-u-l-i-a-h. Jangan sampai, punya banyak aktifitas di luar malah berimbas pada IPK yang minim. Masa kuliah adalah waktu emas untuk mengumpulkan banyak ilmu serta pengalaman baik di organisasi, prestasi, maupun pekerjaan paruh waktu. Itu semua bisa jadi bekal untuk menghadapi dunia yang lebih profesional lagi ketika sudah lulus nanti.

Mengapa saya menulis ini dan apa kaitannya semua kegiatan itu under the name set your own standard? If we are now in a system which considered not key for us, we can’t blame its system which likely hard to change, then we can change our perspective by living higher standard; by increasing our quality whether in academic or non-academic. At least, dengan itu semua, kita sudah mencoba untuk melakukan hal lebih di atas standar which hopefully menjadikan kita sebagai mahasiswa yang berkualitas—yang tidak bisa begitu saja dipandang sebelah mata. As in the end, your quality that will define who you are.


Penulis: Lista R

No comments:

Post a comment