Friday, 23 February 2018

The Absence of Inspiration


I cross my leg over the other and pose a fist under my chin.
Become so contemplative with a cup of caffeine that has been cold and waiting to be consumed.
I sit with pen in hand that occasionally being spun.
Seeking for muse, a piece of dark-brown paper waiting to filled with ink.

Even when escorted by melody, a teeny weeny impulse does not come up.
The clock feels quickly ticking like I drive my mom’s old Avalon off from Buitenzorg to Batavia.
I scratch out random thoughts on the blank triggering an afflatus to flow.
No pop up. No show up. And completely screw up.

I drink my cold coffee that is not cold brew.
Getting no pleasure from it, I go to the kitchen making an espresso tiramisu.
Expecting next minutes not to be messed up.
Writing verse to be memorable even if it is a simple three lines of haiku.

Sipping my fresh new coffee, still no hints to be written.
Feeling like the old paper, punched by boredom.
Losing the expectation, where is my inspiration?


Writer: Lista R

Thursday, 22 February 2018

Pandangan Sebelah Mata Terhadap Universitas Swasta

Kata Kunci:

- Alasan mengapa kebanyakan orang Indonesia memandang sebelah mata universitas swasta.
- Justifikasi sekaligus argumen mengenai pandangan-pandangan tersebut.


Gak bisa dipungkiri kalau dibandingkan dengan universitas negeri (tepatnya universitas-universitas negeri yang prestisius macam UI dan UGM), universitas-universitas swasta cenderung dipandang sebelah mata. Ada beberapa alasan tentunya, diantaranya:

-  Standar Pendidikan Yang Berat Sebelah

Kenapa kok berat sebelah? Karena proses seleksi masuk kedua universitas aja udah berat sebelah. Buat masuk negeri seorang pelajar sekolah harus rela bersaing dengan pelajar lainnya se-Indonesia, baik itu melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, ataupun jalur mandiri. Kebayang kan, dari puluhan atau ratusan ribu yang daftar yang keterima cuma puluhan atau ratusan. Sedangkan untuk masuk swasta, siapa aja yang mau masuk udah (nyaris) pasti masuk (Selama ada uang untuk bayar biaya kuliah per semesternya yang mahal itu). Untuk masuk swasta, kalaupun ada tes, tesnya gak akan sesulit SBMPTN ataupun Ujian Mandiri.  Jadi jelas, dari awal masuk aja, standar udah beda dan berat sebelah.

Segi seleksi yang berat sebelah berpengaruh sama proses pembelajaran. Kurikulum mungkin sama, tapi standar dan segi asupannya yang beda. Buat kurikulum sama-sama dipukul rata, bedanya, universitas negeri dipukul rata ke anak-anak yang bisa dibilang unggul, sedangkan swasta satu kelas itu macam-macam kemampuan anaknya— kurang pintar, biasa aja, pintar, sangat pintar ada semua. Jadi, walaupun sama-sama dipukul rata, tapi standarnya tetap beda. Minusnya di sini adalah, untuk swasta, kasihan anak-anak yang termasuk unggul tapi malah harus ngikutin standar yang di-set untuk dibawah mereka (karena  bobot pelajaran harus berterima oleh semua tingkatan).

-_Fasilitas Yang Berbeda

Udah jelas beda. Rata-rata universitas negeri udah dibangun dari puluhan tahun lalu, sedangkan swasta biasanya baru didirikan kurang dari 20 tahun. Memang ada yang di atas 20 tahun, biasanya ini perguruan-perguruan swasta yang ternama di Indonesia macam Trisakti, Binus, Gunadarma, Pancasila, Institut Kesenian Jakarta. Untuk gedung-gedung sih memang lebih menang swasta, tapi gedung yang bagus gak selamanya ditunjang dengan fasilitas yang bagus. Biasanya universitas swasta gak punya lahan seluas universitas negeri yang sangat memungkinkan untuk memiliki banyak fasilitas, contohnya: jalur transportasi sendiri, gymnasium, track joggingbookstore, tempat nge-gym, apalagi danau macam danau UI yang bisa dipake ngadem ayem abis ngampus. Di swasta, antar gedung kampus aja bisa terpisah berkilo-kilo meter jauhnya dan gak ada bus gratis untuk mahasiswa apalagi shelter kampus.

Sedangkan fasilitas non-fisik macam organisasi— BEM, UKM, Club, dll, kedua universitas pasti punya. Tapi lagi dan lagi, track record negeri jauh lebih unggul dibanding swasta. Dulu di kampus gw (yang mana swasta), banyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), tapi hanya beberapa yang benar-benar jalan, banyak club baru yang kurang diperhatikan perkembangannya oleh BEM dan pihak kampus itu sendiri, sehingga club tersebut berakhir hambar, atau lebih parahnya mati. Di kampus gw juga, kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dibatasi oleh kebijakan kampus yang menurut gw menghambat kreatifitas dan kebebasan bereskpresi mahasiswa. Di kampus swasta lain mungkin enggak, dan beberapa UKM dari perguruan tinggi swasta juga ada yang keren, misalnya: English Club-nya Binus yang setiap tahun aktif ngadain acara dan lomba-lomba bahasa Inggris yang prestisius.

-_Semangat Belajar Anak Swasta dan Negeri Itu Bagaikan Langit dan Bumi

Poin ke-3 ini terpengaruh oleh poin pertama. Kenapa semangat belajar anak swasta cenderung rendah dibandingkan dengan anak negeri? Secara umum, ini disebabkan oleh standar pendidikan yang berat sebelah itu tadi. Bobot anak negeri lebih berat dikarenakan standarnya yang lebih tinggi, contohnya: a. Tugas yang lebih susah, lebih sering, dan lebih banyak, b. Soal UTS/UAS yang lebih berbobot— yang mana poin A maupun B berpengaruh terhadap tingkat kesulitan seorang mahasiswa untuk mendapatkan nilai A. Tugas-tugas yang banyak dan berkualitas, soal-soal yang berbobot itu sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar mahasiswa. Mau gak mau, dengan adanya tugas-tugas itu, mahasiswa tetap belajar dan ada dorongan gimana caranya lulus mata kuliah ini dan itu—yang mana pada akhirnya, kemampuan mahasiswapun meningkat.

Di swasta untuk dapat nilai A itu cenderung dipermudah. Ini berimbas pada kualitas dan frekuensi tugas terhadap mahasiswa yang kurang berbobot. Mahasiswa terbiasa diasupi dengan tugas-tugas atau soal-soal yang mudah sehingga berpengaruh pada kurangnya motivasi belajar, cara berpikir kritis, dan kemauan keras untuk memperoleh ilmu yang mumpuni disebabkan kesadarannya mengenai hambatan yang akan dilalui tidak terlalu sulit untuk dihadapi. Bisa dibilang mahasiswa cenderung di’nina bobokan’ dengan standar yang seperti itu—dan dengan standar itu pula masih banyak yang kesulitan mendapatkan nilai A atau B, bahkan ada yang menempuh jalur-jalur ‘haram’ untuk memperbaiki nilai C atau D. Kalau udah sampai sini, yang salah mahasiswa atau sistem dari universitas ‘itu’ sendiri?

Sebenarnya, poin ke-3 ini bersifat subjektif. Setiap mahasiswa punya bobot dan semangat belajar yang berbeda. Tergantung seberapa besar kemauan dan idealismenya terhadap pendidikan. Tapi satu hal yang perlu diingat: IPK bisa dibeli, tapi kualitas gak pernah membohongi. (Artikel selanjutnya: Jadi Mahasiswa (Swasta) Yang Berkualitas).

Pandangan-pandangan sebelah mata di atas boleh jadi tidak berlaku untuk semua universitas swasta, apalagi ini didasarkan pada pengalaman dan pengamatan pribadi penulis. Terlebih lagi penilaian terhadap kualitas personal mahasiswanya—yang pada dasarnya kualitas seseorang ditentukan oleh diri sendiri, sedangkan lingkungan hanya jadi faktor pendukung. Dimanapun belajarnya, justifikasi mengenai kualitas seorang mahasiswa baik itu swasta ataupun negeri tidak mutlak dicap dari almamaternya. Kalau gitu, kasihan sama anak swasta yang berkualitas, tapi malah dipukul rata dengan segala stereotip negatif mengenai swasta.

Di luar negeri, banyak universitas-universitas swasta yang justru lebih baik ketimbang negeri, contohnya di Amerika, Harvard adalah perguruan tinggi swasta prestisius dan tersohor di seluruh dunia. Dan berapakah umur Harvard? 382 tahun! Dengan track record selama itu, gak heran kalau Harvard jadi salah satu universitas terbaik di dunia. So, bisa disimpulkan bahwa di Indonesia, track record universitas swasta yang masih seumur jagung menjadikan kualitas antara universitas negeri dan swasta timpang sebelah. Didasarkan dengan hal ini jugalah, seiring dengan berjalannya waktu, sangat mungkin bahwa beberapa dekade ke depan, universitas swasta memiliki kualitas yang lebih unggul baik dari segi fisik maupun non-fisik.

Penulis: Lista R
Image Source: Pinterest

Monday, 19 February 2018

The Land of Oz


Paintings displayed, some custom quotes of yours are wooden framed.
You sit on your favorite corner scratching lines on your canvas.
Contemplating how solemn you are, I observe like a number one fan.
Dan Bejar’s music fills the entire studio spreading warmth to the silence.

Like rotation, clock’s hands keep moving on its dial.
Evening sunlight streams through the window and the clock shows 04.10 PM.
I open my journal; to him, I write a poem.
The time feels so pleasing, the atmosphere feels so enchanting.

Isn’t it too quirky?                                          You say.
No, it’s aesthetic.                                             I say.
Perform like a poet, I read my poem.
Does it sound bizarre?                                    I say.
No, it sounds fantastic.                                    You say.

We sing along on your small stage.
With that dark wood guitar I play.
All paintings are the loyal audience.
Cheering us to keep going until the finale.

This is perfectly perfect!                                  I say.
Welcome to the Land of Oz!                           
The birthplace of inspiration.
Where dream is no longer a dream.
Where happiness you find in every corner.
And all the impossible become possible.
Welcome to the Land of Oz!                            You say.
                       
I recite it cheerfully, welcome to the Land of Oz!          

Writer: Lista R
Image Source: mymoderrnmet      

Thursday, 15 February 2018

Will It Be?


I wonder, at the same time, with the same situation, under the same circumstance

Will it be last longer?

There’s always a time when the tiredness comes and the amusement fades, the affection is shaken by terrible weary, yet I’ll find myself will be begging on my knees for the same old dream: I want us to be last forever.

-LR
Image Source: Pinterest