Wednesday, 19 July 2017

Kasus Pembullyan Farhan di Gunadarma, Komentar-Komentar yang Out of Topic, hingga Rumor Gunadarma Diblacklist

Key words: Kasus Perundungan (Bully) terhadap Farhan di Universitas Gunadarma, Bullying, Efek Bully terhadap Korban Bully, Tipe-tipe Bullying, Hasty Generalization, Gunadarma diblacklist perusahaan.

Before I start this post, lemme show you the bullying video which befell to Farhan (19).


Pertama kali nonton video itu, what inside my mind was: Masih zaman bullying?  Ridiculously the culprit was a college student who supposedly has left that kinda thing a.k.a bullying. Korban bully bernama Farhan yang katanya mengidap autisme, tapi saya membaca salah satu berita yang menyatakan bahwa korban bukanlah pengidap autisme. Terlepas korban pengidap autisme atau tidak, tetap saja tindakan bullying tidak dapat dibenarkan. How much perfect are you by being dare enough to bully someone? Apalagi pelakunya teman kelas sendiri which I don’t get it why, in the video shows his friends didn’t defend Farhan anymore. Oh my God *facepalmed*

You know how bullying affects the victim?
According to a website called stopbullying(dot)gov which provides nearly every information regarding bullying, korban bully dapat mengalami masalah fisik, sekolah, dan kesehatan mental. In detail, it is mentioned that the victim are more likely to experience:

·         “Depression and anxiety, increased feelings of sadness and loneliness, changes in sleep and eating patterns, and loss of interest in activities they used to enjoy. These issues may persist into adulthood.
·         Health complaints
·         Decreased academic achievement—GPA and standardized test scores—and school participation. They are more likely to miss, skip, or drop out of school.”

Di point pertama disebutkan bahwa efek-efek tersebut dapat bertahan sampai ia dewasa, tapi yang pasti semua efek itu tergantung korbannya; ada yang mengalami itu semua, sebagian, atau hanya beberapa. For how long those effects may happen to the victim is also depend on the victim. Yang jelas, ketika berangkat ke sekolah atau kampus dan tahu you are going to be bullied (like serious bullying) by your own classmates, itu rasanya nyesek banget. Despite all the mentioned effects above, dengan membully, para pembully itu sudah merusak momen yang seharusnya produktif dan indah di sekolah / kampus menjadi menyeramkan. Bagaimana jika korban termasuk orang yang mudah menyerah dan bermental lemah? You have no idea. Really. Terlebih lagi jikalau korbannya mengidap penyakit terbelakang. You have no idea plus plus plus the bully sort of a heartless and brainless person.

However, by being bullied leads you to be a stronger person in the future. Saya yakin Farhan jadi sosok yang lebih kuat dan tangguh diantara teman-temannnya. The good news is semua efek negatif itu bisa dialihkan menjadi energi yang lebih positif yang bisa mengubah keadaan korban menjadi lebih baik. Am pretty sure that Farhan is able to handle all those things and be the most successful person amongst his classmates later in years ahead.

Oke, cukup tentang efek bullying. We are heading to another topic concerning Gunadarma University. Dengan menjadi viralnya kasus Farhan di banyak media di Indonesia: media berita online, media TV swasta nasional dan TVRI, media sosial terutama Instagram (IG) yang mana kasus ini sendiri diviralkan pertama kali oleh akun IG TNBG (thenewbikingregetan) and Lambe Turah in which sampai sekarang kasus pembullyan Farhan masih diblow up oleh media-media Indonesia yang membuat nama universitas ikut tercoreng. Siapa sih yang gak malu terkenal karena ‘baunya? Jadi, saat ini banyak sekali pihak yang memandang sebelah mata pada Gunadarma. Lucunya, banyak netizen yang mengomentari video pembullyan Farhan di Instagram OOT alias Out of Topic atau keluar jalur. Videonya tentang pembullyan, yang dikomen malah kualitas Gunadarma dan tidak sedikit dari netizen yang secara eksplisit berkomentar dengan nada negatif yang provokatif. Contohnya: 


Gross! It’s really nasty right?! First, si mbak (let’s call it si mbak) ini berkomentar dengan Bahasa yang tidak santun. Second, penggunaan EYD Bahasa Indonesia yang terlalu berantakan di komentar tersebut. Third, si mbak ini berkomentar dengan MENJUSTIFIKASI Universitas Gunadarma dengan satu sampel yaitu: video tentang pembullyan pada Farhan. It reminds me to a short story entitled “Love is a Fallacy” by Max Schulman who mentioned 7 types of fallacy. Ada satu fallacy (kesalahan) yang disebut oleh Schulman bernama Hasty Generalization (Generalisasi yang Gegabah). Singkatnya, “Hasty generalization is a fallacy in which a conclusion is not logically justified by sufficient or unbiased evidence” (Nordquist, 2017). Kesimpulan yang diambil dengan bukti yang terlalu terbatas sehingga kesimpulan tersebut cenderung tidak logis disebabkan kurangnya data atau bukti yang mendukung. Hal ini menyebabkan justifikasi yang gegabah, tidak valid, dan tidak dapat dipercaya begitu saja.

Si mbak membandingkan antara UI dan Gunadarma dengan pernyataan-pernyataan yang gegabah dan cenderung semena-mena. Darimana dia tahu yang sebenarnya kalau UI itu X, Gundar itu Y dalam kasus ini? Pernyataannya provokatif pula, yang mana bisa menimbulkan kesan negatif dan salah paham terhadap Universitas Gunadarma. Beberapa orang menganggap suatu komentar itu absolut benar bukan? Sehingga mudah terperdaya dan percaya tanpa riset lebih lanjut. Sudah hasty generalization, judge a book by its cover pula. Padahal yang benar, DONT judge a book by its cover.

There is a saying “Your words define your character,” yang Anda ucapkan mencerminkan karakter Anda. Therefore, bisa dilihatlah ya yang berkomentar semacam si Mbak ini kira-kira seperti apa karakternya. Sadly, masih banyak komentar-komentar tidak bermutu lain yang menjustifikasi pihak universitas dengan adanya video tersebut. Banyak sekali. Bisa dicek di kolom komentar akun IG @thenewbikingregetan. *sceptical*

Orang-orang yang mengomentari kolom komentar seperti Mbak tersebut, entah dia sadar atau tidak, sedang melakukan tindakan perundungan (bully) terhadap Universitas Gunadarma. A website called National Centre against Bullying menyebutkan bahwa ada 4  tipe bullying, yakni: physical, verbal, social, and cyber bullying. Tipe komentar seperti di atas termasuk cyber bullying in which pelaku melontarkan rumor atau hinaan terhadap pihak yang dibully. Lalu apa faedahnya orang-orang yang berkomentar dengan cara yang tidak classy itu, yang katanya mengecam tindakan bully, tapi diwaktu yang sama mereka juga melakukan tindakan cyber bullying? It’s funny right?

Tidak cukup sampai disitu, kasus bully ini jadi melebar kemana-kemana. For instance: 


WHAT?!!

Speechless. Absolutely. Kenapa jadi ke blacklist Gunadarma? *facepalmed for a hundred time*
Terlepas itu benar atau tidak, persoalan mengenai blacklist Gunadarma ini sudah menjadi rumor. Tentunya rumor tersebut membuat resah mahasiswa Gunadarma terutama angkatan 2013 yang tahun ini akan lulus. Basicly banyak angkatan 2013 yang pasti melamar pekerjaan atau magang tahun ini. Kalau diblacklist, lah gimana ceritanya?

Jikalau rumor itu benar dan beberapa perusahaan memblacklist Gunadarma untuk jangka waktu tertentu karena kasus tersebut, I just wanna say: you are being outrageous. How come? Because you just commit to hasty generalization and injustice.

Sebenarnya persoalannya simpel, yang salah di sini tentunya yang membully dan kenapa jadi semua mahasiswa Gunadarma terkena imbasnya? Kenyataannya di lapangan mahasiswa Gunadarma mengecam keras tindakan tersebut dengan melaporkan kasus tersebut ke pihak kampus tanpa main hakim sendiri. Bahkan setelah kejadian itu muncul selembaran-selembaran tersebar di kampus D Gunadarma mengenai anti bullying. Mereka bersama-sama dengan pihak TNBG mendukung Farhan sepenuhnya dengan #supportfarhan #farhanadalahkita. 


Original Pic by @thenewbikingregetan

See? Justifikasi sebuah populasi dari 1% sample = ketidakadilan, dan mahasiswa Gunadarma tidak layak dipandang buruk karena kasus tersebut.

“Groups are grammatical fictions; only individual exist, and each individual is different.”

-          Robert Anton Wilson

Kita semua juga tahu bahwa setiap orang berbeda. Kualitas seseorang pun berbeda satu sama lain. Hal itupun berlaku ketika ada dua orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama, pasti hasilnya berbeda. Saya yakin banyak perusahaan besar dan profesional di Indonesia yang memahami hal tersebut. Therefore, as Gunadarma students who are going to graduate, you should show to the world that you are qualified. Don’t worry and let them see your dignity!

Lista Rani
Sastra Inggris UG 2013

References

Nordquist, R. (2017, June 30). Definition and Examples of Hasty Generalization. Retrieved from ThoughtCo: https://www.thoughtco.com/hasty-generalization-fallacy-1690919
Robert Anton Wilson Quote. (2017). Retrieved from IZQuotes: http://izquotes.com/quote/200007
Services, U. D. (2017). Effects of Bullying. Retrieved from stopbullying.gov: https://www.stopbullying.gov/at-risk/effects/index.html

1 comment: