Friday, 9 September 2016

Resign BEM atau Gak, ya?

It was really confusing for me to decide. Udah terlalu banyak kenangan yang dibuat selama satu tahun gw di BEM, dan sekarang gw dihadapkan diantara keputusan untuk lanjut atau tidak. To make you understand how hard it is to decide, let me tell you my story between me and BEM.

I am kind of organized person, I do always have plan almost for everything including my decision to join student executive board of my faculty in my university. Rencananya masuk BEM hanya untuk satu periode yaitu selama tingkat 3 kuliah. Karena gw pikir satu periode di BEM udah cukup menambah pengalaman gw di organisasi beside after BEM, di tingkat 4 gw punya prioritas lain yaitu fokus kuliah. I need to prepare myself to face the end of my college year, I need to pay every lectures which have left behind, I need to make my title degree is really worth by being an excellent bachelor. Singkatnya, tingkat 4 gw mau memastikan bahwa apa yang telah gw pelajari selama ini tidak sia-sia, dan gw bisa menguasai itu semua--- Karena gw gamau jadi sarjana sastra abal-abal.

Balik lagi ke BEM, ya di tingkat 3 gw join BEM dan gw bener-bener NIAT untuk itu. Sampe gw memprioritaskan BEM dibanding kuliah karena memang, once again, tingkat 3 gw butuh BEM sebagai bagian dari pengalaman di masa kuliah gw. Gak banyak basa-basi, dengan modal CV kreatif, pengalaman organisasi saat sekolah dulu, lalu wawancara sederhana akhirnya gw resmi jadi pengurus BEM (Note: Istilahnya 'pengurus' bukan 'anggota'. However, pengurus BEM adalah anggota BEM, tapi anggota BEM belum tentu pengurus BEM e.g. Mahasiswa biasa yang bukan 'anak BEM' adalah anggota BEM #biasakanyangbenarjanganbiasakanyangsudahbiasa). So, gw resmi jadi pengurus BEM sejak itu dan gw berusaha put my best on it, gw selalu berusaha ada dikala BEM butuh gw, dan gw mau cari sebanyak-banyaknya pengalaman di sini.

Do you know what's most inevitable fact of BEM?
 

Gw menyimpulkan bahwa selama 3 tahun gw kuliah, belajar di kelas mengikuti perkuliahan-perkuliahan, JUSTRU the true learnings itu ada di BEM. Justru, pelajaran dan pengalaman selama satu tahun gw di BEM lebih berharga ketimbang 3 tahun gw belajar di kelas. Like literally oh my goodness, ini tuh beyond my expectation. It's not only add the value of my CV later when I apply to company or such. IT IS MORE THAN THAT! Sampe gw tuh ngerasa, gila gw beruntung bangetlah jadi anak BEM. Sumpah ini gak lebay, it's truly what I've felt since I join BEM. Mungkin karena gw put 100% dedication juga kali ya di sini. Whatever, pokoknya BEM ngasih banyak pelajaran sama gw, dan gw bisa menyalurkan bakat dan interest gw di sini. Contohnya? Banyak.

Gw punya interest dan sedikit keahlian di editing & design which is eventually itu bermanfaat di BEM dengan gw ngedesign logo baru BEM (yang notabennya ini logo bakal kepake terus sampe gw wafat dengan catatan ga ada ketua BEM selanjutnya yang berinisiatif ganti logo BEM FSastra Gunadarma, dan semoga ga ada karena itu berharga banget buat gw :') #curhat #emanginicurhatsih). Gak cuma interest gw doang yang kepake, my speaking skill and confidence are also useful here, kalo gak jadi anak BEM kayaknya gw gak akan mencicipi pengalaman menjadi moderator, MC, ketua acara, dll. Apalagi pas jadi ketua acara gw ngerasain lagi atmosfir mengatur banyak hal kompleks since gw vakum beberapa tahun di dunia organisasi (baca: My Organization Stories: From School to University), such as bekerjasama, teamwork yang beneran teamwork, mikirin strategi. Gw bersyukur diberi kesempatan untuk jadi ketua acara. Karena itu, gw belajar approaching speaker, sponsor, bikin MOU, nyari dan attract peserta, ngurusin perizinin ini itu, nanyain soal media partner, design sertifikat peserta, plakat, dll, pokoknya make sure everyhing's okay in preparing the event, deh. Dan yang bikin lebih bersyukur lagi yaitu dengan join BEM gw bisa menyalurkan ide dan pemikiran gw. Termasuk seminar yang gw ketuai itu adalah ide yang selama ini ingin gw realisasikan. Kalau gak di BEM, mungkin gw gak akan pernah bisa merealisasikan itu. Gw juga semenjak tingkat satu pengen banget ada english club di kampus tapi belum ada juga, sampai akhirnya di BEM gw menginisiatifkan itu (bersama teman gw) dan jadilah Gunadarma English Club (GEC), gw bikin logonya lagi, term and condition, dll. Selama di BEM, gw jadi panitia di berbagai kegiatan yang makin menambah practical experience gw dan itu gak hanya di ruang lingkup sastra tapi juga ruang lingkup lain seperti seni musik, olahraga, politik, sosial.  Ah, pokoknya kalau gw ngomongin apa yang udah dilalui di BEM banyak banget, ada sejuta momen di sana that I bet I will never forget them.

But, dari semua hal yang udah disebutin di atas, what's most precious is the value of becoming human as homo social was really thick. Di sini gw belajar bagaimana menghargai dan mengerti jalan pikiran seseorang, gak mudah mencap negatif atas tindakan yang diperbuat seseorang because every moves of someone is based on reasons which sometimes can't never be understood by our own perspective. Di sini gw lebih sosialis dan sadar betapa bodohnya gw, tapi dengan merasa seperti itu, literally, i always learn something. Hal lain yang gw syukuri dari aktif di kegiatan BEM adalah banyak temen, kenal sama junior, senior, bahkan pihak-pihak luar kampus, and I learned so much from them, and I learned to respect them.

Then, from a bunch of valuable things which I got by being a part of BEM, why did I so damn confused in deciding to resign or not? 


First, Setahun gw di BEM, gw merasa bermanfaat dan berkembang. Dari hal itulah mulai terpikir untuk break rencana awal yang menyebutkan bahwa gw hanya akan mengikuti satu periode di BEM. Gw mulai ada niatan untuk lanjut BEM sajalah, toh the longer, the more I shall get the experience. Namun, second, suddenly di penghujung periode seolah semuanya berbalik 180 derajat. Gak semua hal manis selamanya manis, there is always bitter memories and bastard people in a splendid circumstances. I know hal itu pasti, and I can fine with that. Tapi, kenapa bisa sampai segalau ini? Karena sangat fatal, and for me, it is intorelable. I dont want to tell the ugly truth to avoid gossip, yang jelas hal ini membuat hati dan otak jadi gak sinkron. Hati bilang tidak, otak bilang why not? Akhirnya gw memutuskan untuk istikharah dan hasilnya tidak. Tapi, setelah jawaban ‘tidak’ itu , selama satu bulan gw masih tetap mempertimbangkan untuk lanjut, dan saat itu gw membuat beberapa rencana yang akan dijalankan jika pada akhirnya gw lanjut BEM, and also I have several reasons to stay. I can say that it is my hardest decision which I need to take because ini perkara yang susah untuk ditinggalkan tapi maksa untuk dilepaskan. Stay or leave? Hence I share my vacillations and worries to my closest friends, and after that, I wasn't get what I really want, thus I still tried to swim in the middle of ocean, and didn't found the edge yet. Sampe akhirnya... due to my weary in deciding the unfixed thing, gw tersadarkan ketika hati kecil gw berkata, "Lista, no matter what you've been planned for BEM which is excellent in your opinion, your calculation and logical thinking shall never able to compete with the logic of YOUR GOD." Gw udah istikharah dan jawabannya tidak, tapi gw masih tetap mempertimbangkan untuk lanjut BEM setelah istikharah itu. Hingga detik-detik terakhir keputusanpun gw masih galau juga, so finally I thought that perhaps the first answer of my istikharah is the best way that Allah has pointed me since I drown with terrible confusion. Akhirnya dengan berat hati dan rasa sedih gw memutuskan untuk resign dari BEM. Awalnya memang berat, tapi gak lama beberapa hari kemudian, I was like given guidance for what I need to do during the rest of my time in college year, and suddenly I was really grateful. Sampe sekarangpun, well I am, really grateful for what I have decided.

However, gw juga bersyukur karena diberi kesempatan untuk bertemu teman-teman yang luar biasa di BEM. Gw beryukur atas pelajaran dan pengalaman berharga yang gw dapat di BEM, and for God's sake I will never forget them--- all my friends here, memories, and learnings. BEM memberikan sejuta manfaat dan pembelajaran bahkan ketika dalam masa sulit sekalipun. Satu pesan buat kalian yang baca ini, if you are a college student, go bustle yourself with student organization, you will never regret your action for then.


Dengan keputusan gw itu, which is resign, everything's back build upon my early plan. Gw hanya berpartisipasi aktif di BEM selama satu periode. At least, di tingkat 4 ini gw bisa ngejar salah satu target gw yang lulus dengan predikat sarjana anti abal-abal. Dari kebimbangan dan kegalauan ini gw belajar bahwa kita gabisa memaksakan sesuatu yang sudah tidak pada tempatnya. Selogis apapun kita, sometimes we just need totally believe in our heart, and TRUST OUR GOD. Percaya bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan dan diatur oleh tangan yang berkuasa akan hal itu. Percaya bahwa ke depannya ada hal yang jauh lebih baik telah disiapkan untuk kita. So, the key is BELIEVE. JUST B E L I E V E!


No comments:

Post a comment